Jateng Rujukan Internasional, Beras Rendah Karbon Dilirik Eropa

  • 30 Jun 2025 19:21 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Jawa Tengah mulai mencuri perhatian dunia sebagai pelopor pertanian rendah emisi di tengah isu perubahan iklim global. Salah satu buktinya, yakni program beras rendah karbon yang menarik minat negara-negara Uni Eropa untuk memperluas kerja sama.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyambut langsung kunjungan Duta Besar Uni Eropa Denis Chaibi dan perwakilan dari 12 negara anggota, Senin(30/6/2025). Kunjungan yang berlangsung di Balai Kota Surakarta itu menjadi ajang diplomasi pangan berkelanjutan.

"Hari ini untuk menindaklanjuti hubungan yang saat ini sudah kita lakukan. Ke depan hubungan ini akan dilanjutkan kembali,” kata dia.

Menurut Luthfi, Jawa Tengah berkomitmen menjaga ketahanan pangan sekaligus menekan emisi karbon dari sektor pertanian. Salah satunya dengan mengembangkan sistem tanam dan penggilingan padi yang ramah lingkungan.

Pada 2024, luas tanam padi Jateng mencapai 1,5 juta hektare dengan produksi 8,8 juta ton gabah kering giling. Kontribusinya mencapai 16,73 persen terhadap stok pangan nasional, dan tahun ini ditargetkan meningkat menjadi 11,8 juta ton.

Program beras rendah karbon sudah diterapkan sejak 2022 di Klaten, Boyolali, dan Sragen. Skema SWITCH-Asia Low Carbon Rice menjadi penghubung antara petani, penggilingan padi kecil, dan konsumen seperti hotel serta restoran.

Di Klaten misalnya, panen seluas 100 hektare berhasil menghasilkan 600 ton gabah. Program ini menurunkan emisi karbon hingga 80 persen dan menghemat biaya giling sampai 40 persen.

Langkah inovatif juga dilakukan dengan mengganti mesin penggilingan dari solar ke listrik. Selain itu, petani mulai mengurangi pupuk kimia dan menerapkan efisiensi penggunaan air.

Kadinas Ketahanan Pangan Jateng Dyah Lukisari menyebut, perluasan program dibantu pendanaan CSR. Salah satunya berasal dari Bank Indonesia yang menggelontorkan Rp1,8 miliar untuk enam titik mesin listrik.

Kabupaten yang menerima bantuan antara lain Demak, Jepara, Kudus, Kota Semarang, dan Kabupaten Semarang. Nilai investasi konversi mesin per titik mencapai Rp250 juta hingga Rp300 juta.

"Nanti akan dicoba 1-2 pilot mesin penggilingan dengan tenaga surya. Masih kami bahas juga soal ini," ujarnya.

Dubes Uni Eropa, Denis Chaibi menyampaikan ketertarikannya pada konsep ketahanan pangan berbasis lokal yang dijalankan Jawa Tengah. "Kami ingin terlibat dan belajar dari Jawa Tengah yang merupakan salah satu lumbung pangan terbesar di Indonesia, bahkan juga ada di dunia," katanya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....